OOPS. Your Flash player is missing or outdated.Click here to update your player so you can see this content.
Anda berada disini: Beranda arrow Berita & Acara arrow Industri pulp mulai bernapas
Industri pulp mulai bernapas PDF Cetak E-mail
Jumat, 21 Agustus 2009
Dulu, kira-kira sebelum krisis ekonomi global mengguncang dunia, pertumbuhan industri pulp dan kertas di Indonesia, wow tangguh banget. Terus bertumbuh.
Jika pada 1987 produksi kertas 980.000 ton, 10 tahun kemudian naik menjadi 7,23 juta ton. Begitupun dengan industri pulp. Jika pada 1987, kapasitas produksi hanya 515.000 ton, pada 1997 naik menjadi 3,90 juta. Laju yang mencengangkan.

Itu mengapa, industri pulp, saat itu, dianggap sebagai salah satu industri hasil hutan yang sangat penting. Peran industri itu diakui dalam menyumbang devisa dan ekonomi nasional. Upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi di sektor industri sebagai reinvestasi surplus menimbulkan penambahan tenaga kerja yang berasal dari sektor pertanian.

Namun, seperti istana pasir, begitu krisis ekonomi global menerpa, kinerja industri itu, kolaps. Mereka rontok lantaran beberapa produsen mengurangi produksi. Ditambah seretnya pasokan bahan baku dari hutan tanaman industri (HTI). Bahkan, hingga akhir tahun lalu, tingkat utilisasi melorot jauh di bawah 70%.

Pemain di industri itu, PT Surabaya Agung Industri Pulp & Kertas Tbk, pun merasakan. Harga pulp dan kertas yang meningkat selama kuartal 1–kuartal III 2008, turun drastis memasuki kuartal IV 2008 hampir 40%-50% dalam waktu kurang dari 2 bulan. Hal ini juga dipengaruhi oleh krisis ekonomi global yang menurunkan permintaan industri pulp & kertas. Selama kuartal IV 2008 hingga kuartal I 2009 , perseroan menjual rugi karena menggunakan stok pulp dan kertas bekas (bahan baku) yang mahal yang dibeli dari periode sebelumnya.

Harga Pulp 2008-2009 (ton)
Eropa
�     Serat panjang     Serat pendek
Juli 2008         US$920     US$840
Maret 2009     US$570     US$480
Juli 2009         US$660     US$530
Agustus 2009  US$690     US$560
Asia
Juli 2008            US$770     US$840
Maret 2009         US$470     US$480
April 2009           US$490     US$480
Juli 2009             US$580     US$530
Agustus 2009     US$600     US$560
Sumber: diolah dari berbagai sumber

Begitupun Riau Andalan Pulp and paper (RAPP). Saat itu, tak kurang 1.000 orang karyawan unit produksi masuk daftar PHK, sedangkan 1.000 orang lainnya dirumahkan.

Sinarmas pun serupa. Direktur Sinarmas Pulp and Paper Products Yan Partawijaya mengatakan penurunan kapasitas produksi industri pulp dan kertas terpaksa dilakukan karena rendahnya permintaan pasar internasional. “Nilai kerugian menghadapi situasi krisis ekonomi itu, cukup besar,” katanya.

Kini, 'puting beliung' krisis itu, kayaknya, mulai surut. Permintaan mulai bergeliat. Bahkan, produsen pulp dan kertas kewalahan memenuhi permintaan pasar internasional yang melonjak tajam terutama dari China, Jepang, Eropa, Amerika Serikat dan Timur Tengah sejak kuartal kedua 2009.

“Banyak pembeli yang datang meminta bantuan asosiasi untuk mencari pulp dan kertas. Kita tidak menduga perubahannya secepat itu, sehingga produsen pulp dan kertas di dalam negeri kewalahan memenuhi permintaan pasar internasional,” ujar Ketua Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), M. Mansyur, kemarin.

Mansyur mengungkapkan kapasitas produksi kertas Indonesia 11,8 juta ton per tahun, sedangkan kapasitas produksi pulp mencapai 7,8 juta ton per tahun.

Belum pulih

Boleh jadi, menggeliatnya pasar pulp dan kertas dunia disebabkan oleh banyak produsen pulp dan kertas di sejumlah negara pesaing belum pulih dari hantaman krisis ekonomi global. Selain dipicu oleh permintaan yang meningkat di pasar ekspor seperti di Eropa, Amerika Utara, Timur Tengah, AS dan Asia. Selain itu, juga karena rupiah yang makin berotot terhadap dolar AS.

Namun, harus diakui, kapasitas produksi pulp dan kertas, kini, mulai membaik sejak kuartal II 2009. “Semua pabrik pulp dan kertas, kini, berproduksi 80% hingga 90% untuk memenuhi pasar internasional,” katanya.

Direktur Sinarmas Pulp and Paper Products Yan Partawijaya menyebutkan permintaan pulp dan kertas meningkat dari para pembelinya di China dan Jepang. “Selama ini, pembeli terbesar perusahaan kami berasal dari kedua negara itu,” katanya.

Namun, kata Yan, peningkatan permintaan sebesar 15% hingga September 2009 dari kedua negara tersebut, belum sebaik dibandingkan dengan permintaan periode yang sama 2008. “Mudah-mudahan, situasinya akan normal pada akhir 2009. Saat ini, jujur saya katakan, belum sepenuhnya normal. Tapi, harus diakui, ada perbaikan penjualan,” ungkapnya.

Meskipun demikian, kenaikan permintaan pasar pulp dan kertas mulai membaik, menurut Mansyur, harga pulp dan kertas saat ini belum mencapai harga tertinggi Juli 2008. Saat itu, harga pulp serat panjang di Eropa, misalnya, mencapai US$920 dan serat pendek US$840. Kemudian, harga kertas menembus US$1.300. “Mudah-mudahan pada akhir tahun ini harga penjualan pulp dan kertas semakin membaik,” ungkapnya. ( Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya / Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya )
 
Sumber : Bisnis Indonesia online
 Kamis, 20/08/2009 11:26 WIB
oleh : Martin Sihombing & Erwin Tambunan
 
 
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
 
« < September 2010 > »
S M T W T F S
29 30 31 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 1 2

Login






Kata Sandi hilang?

Stats Counters

Visits today: 2
Visits yesterday: 1
Visits month: 35
Visits total: 29457
Max.monthly visits: 1715
  occurred: 2008-11
Pages this month: 5423
Pages total: 1299022
Data since: 2008-03-09